Tampilkan postingan dengan label PEMUDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEMUDA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Mei 2012

Selayang Pandang ; Profil Kementerian Pemuda dan Olahraga < KEMENPORA >



Jejak Sejarah Kelembagaan Kemenpora dari masa ke masa
Tonggak sejarah kelembagaan yang mengurusi pembangunan kepemudaan dan keolahragaan sebenarnya sudah ada sejak masa awal kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana penelusuran tim tentang sejarah pengelolaan kegiatan olahraga dan pemuda oleh negara diketahui pada susunan Kabinet pertama yang dibentuk pada tanggal 19 Agustus 1945. Kabinet yang bersifat presidensial memiliki Kementerian Pengajaran yang dipimpin oleh Menteri Ki Hajar Dewantoro. Kegiatan olahraga dan pendidikan jasmani berada di bawah Menteri Pengajaran. Istilah pendidikan jasmani dipergunakan dalam lingkungan sekolah sedangkan istilah olahraga digunakan untuk kegiatan olahraga di masyarakat yang berupa cabang-cabang olahraga. Usia kabinet pertama yang kurang dari tiga bulan kemudian diganti dengan Kabinet II yang berbentuk parlementer di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang dilantik pada tanggal 14 November 1945.

VISI

“MEWUJUDKAN KEPEMUDAAN DAN KEOLAHRAGAAN YANG BERDAYA SAING”
Visi Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun 2010-2014 tidak terlepas dari upaya mewujudkan Visi Pembangunan 2005-2025 yaitu “Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur” dan melaksanakan Misi Pembangunan Nasional 2005-2025 yaitu “Mewujudkan bangsa yang berdaya saing” sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025.
BERDAYA SAING dalam lingkup kepemudaan mengandung arti: “memiliki kemampuan berkompetisi yang dihasilkan melalui pola pengaderan dan peningkatan potensi pemuda secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan sesuai dengan metode pendidikan, pelatihan, pemagangan, pembimbingan, pendampingan, serta pemanfaatan kajian, kemitraan, dan sentra pemberdayaan pemuda yang terus-menerus dikembangkan sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal dalam menciptakan nilai tambah kepemudaan di berbagai bidang pembangunan, serta peningkatan akhlak mulia dan prestasi pemuda Indonesia di kancah kompetisi global.”

BERDAYA SAING dalam lingkup keolahragaan mengandung arti: “memiliki kemampuan berkompetisi yang dihasilkan melalui pola pembinaan dan pengembangan pelaku, ketenagaan, pengorganisasian, pendanaan, pola pelatihan, penghargaan, prasarana, dan sarana olahraga secara berjenjang dan berkelanjutan sesuai dengan metode penataran, pelatihan, penyuluhan,
pembimbingan, pemasyarakatan, perintisan, penelitian, uji coba, dan kompetisi yang telah menerapkan manajemen dan iptek olahraga modern, serta pemanfaatan bantuan, pemudahan, dan sentra keolahragaan sehingga dapat mencapai hasil yang maksimal dalam kompetisi bertaraf regional atau internasional”.


MISI

““MENINGKATKAN DAYA SAING KEPEMUDAAN DAN KEOLAHRAGAAN”
Misi Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun 2010-2014 mengandung arti:
  1.  Meningkatkan kepemudaan potensi sumber dengan daya memanfaatkan kemitraan lintas sektoral, antar tingkat pemerintahan, untukdan mendukung pemberdayaan peningkatan kemasyarakatan penyadaran pemuda wawasan, dan melalui inventarisasi potensi, kapasitas keilmuan, kapasitas keimanan, kreativitas, dan kemampuan berorganisasi pemuda sehingga pemuda dapat meningkatkan partisipasi, peran aktif, dan produktivitas dalam membangun dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara;
  2.  Mewujudkan pemuda maju, berkarakter, berkapasitas, dan berdaya saing melalui penyiapan pemuda kader sesuai karakteristik pemuda yang memiliki semangat kejuangan, kesukarelaan, tanggung jawab, dan ksatria serta memiliki sikap kritis, idealis, inovatif, progresif, dinamis, reformis, dan futuristik tanpa meninggalkan akar budaya bangsa Indonesia yang tercermin dalam kebhinnekatunggalikaan untuk mendukung pengembangan kewirausahaan, kepeloporan, pendidikan, dan kepemimpinan, kesukarelawanan pemuda di berbagai bidang pembangunan, termasuk penugasan khusus bagi pengembangan kepanduan/kepramukaan sebagai wadah pengaderan calon pemimpin bangsa;
  3.  Meningkatkan potensi sumberdaya keolahragaan dengan memanfaatkan kemitraan lintas sektoral, antar tingkat pemerintahan, dan kemasyarakatan untuk mendukung pemassalan, pembudayaan, serta pengembangan industri dan sentra-sentra olahraga melalui pengenalan olahraga kepada keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat luas sehingga masyarakat gemar melakukan kegiatan olahraga atas kehendak sendiri serta pemasyarakatan olahraga sebagai kebiasaan
    hidup sehat dan aktif sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat setempat sehingga masyarakat memperoleh tingkat kebugaran jasmani, kesehatan, kegembiraan, dan hubungan sosial yang berkualitas; dan
  4.  Mewujudkan yang olahragawan berprestasi pada kompetisi bertaraf regional dan internasional  melalui peningkatan kemampuan dan potensi olahragawan muda
    potensial dan olahragawan andalan nasional secara sistematis, terpadu, berjenjang, dan berkelanjutan serta pemanfaatan iptek olahraga modern untuk mendukung pembibitan olahragawan berbakat dan peningkatan mutu pelatih bertaraf internasional pada pembinaan prestasi olahraga.





Arti dan Lambang Logo


Tangan Kanan Mengepal : Merupakan wujud Tekad, Semangat, Kokoh, Teguh, Kemauan kuat Pemuda untuk menjaga Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta Bhineka Tunggal Ika
Tiga pilar pada tangan mengepal mempunyai makna ketiga peristiwa sejarah yaitu: Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928 dan Kemerdekaan Indonesia 1945 yang Pelaku utamanya adalah Pemuda.
Warna Biru mempunyai makna lambang/simbolik : Keliasan Pandangan dan Pikiran, Smart, Bergerak Maju, Inovatif dan Inspiratif, Kedewasaan, Kematangan, Penguasaan Ilmu Pengetahuan, dan Dinamis
Api Obor merupakan perwujudan semangat/spirit Nasionalisme yang tak pernah padam sejak dikobarkan oleh Boedi Oetomo tahun 1908 yang menjadi momentum Kebangkitan Indonesia sebagai Bangsa(Nation)
Tiga Cincin warna Merah melambangkan semangat Kesatupaduan untuk mengembangkan ruang lingkup bidang Olahraga : Olahraga Pendidikan, Olahraga Rekreasi dan Olahraga Prestasi serta Semangat untuk mengharumkan dan memperjuangkan kehormatan Bangsa Indonesia dan mendorong Keolahragaan Nasional yang bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatam dan kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nila moral dna akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dna membina Persatuan dan Kesatua Bangsa, memperkukuh Ketahanan Nasional, serta mengangkat harkat dan martabat dan kehormatan bangsa
Lingkaran oval : Lingkaran adalah bentuk bidang yang sempurna, ini menggambarkan bahwa Kementerian Pemuda dan Olahraga adalah Lembaga Negara yang Solid, Kokoh, Kuat, Smart, Bernurani, Berdedikasi Tinggi yang membidangi Pemuda dan Olahraga yang dilandasi oleh rasa cinta dan tanggungjawab demi bakti kepada Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Warna Merah mempunyai makna kekuatan, kemampuan, dan semangat yang tidak pernah pudar untuk terus memperjuangkan, mempertahankan, serta menumbuhkembangkan Potensi Pemuda dan semangat Olahraga Indonesia untuk terus mengukur prestasi dalam bidang-bidang pembangunan dan prestasi di bidang keolahragaan.
Warna Putih mempunyai arti niat suci tulus ikhlas sebagai landasan pijak dalam semua gerak langkah Kemenpora untuk berkarya nyata dalam mengemba amanah Bangsa Indonesia untu menjadi Bangsa yang Besar, Bermartabat, Berbudaya dan Disegani di Dunia

Daftar Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia
No Foto Nama Kabinet Dari Sampai Keterangan
1 Wikana Kabinet Sjahrir II 29 Juni 1946 2 Oktober 1946 Bernama Menteri Negara Urusan Pemuda
Kabinet Sjahrir III 2 Oktober 1946 27 Juni 1947 Bernama Menteri Negara Urusan Pemuda
Kabinet Amir Sjarifudin I 3 Juli 1947 11 November 1947 Bernama Menteri Negara Urusan Pemuda
Kabinet Amir Sjarifudin II 11 November 1947 29 Januari 1948 Bernama Menteri Negara Urusan Pemuda
2 Supeno Kabinet Hatta I 29 Januari 1948 4 Agustus 1949 [1] Bernama Menteri Pembangunan/Pemuda
3 Maladi Kabinet Dwikora I 27 Agustus 1964 21 Februari 1966 Bernama Menteri Olah Raga
Kabinet Dwikora II 21 Februari 1966 27 Maret 1966 Bernama Menteri Olah Raga
4 dr. Abdul Gafur Kabinet Pembangunan III 29 Maret 1978 19 Maret 1983 Bernama Menteri Muda Urusan Pemuda
Kabinet Pembangunan IV 19 Maret 1983 21 Maret 1988 Berganti nama menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga
5 Ir. Akbar Tanjung Kabinet Pembangunan V 21 Maret 1987 17 Maret 1993
6 Hayono Isman Kabinet Pembangunan VI 17 Maret 1993 16 Maret 1998
7 H.R. Agung Laksono Kabinet Pembangunan VII 16 Maret 1998 21 Mei 1998
8 Drs. Mahadi Sinambela Kabinet Reformasi Pembangunan 23 Mei 1998 26 Oktober 1999


Tidak Ada Kabinet Persatuan Nasional 26 Oktober 1999 9 Agustus 2001 Dihapuskan


Tidak Ada Kabinet Gotong Royong 9 Agustus 2001 20 Oktober 2004 Dihapuskan
9 Adhyaksa Dault, S.H., M.Si. Kabinet Indonesia Bersatu 21 Oktober 2004 22 Oktober 2009 Diadakan kembali
10 Andi Mallarangeng Kabinet Indonesia Bersatu II 22 Oktober 2009 sekarang Berganti nama menjadi Menteri Pemuda dan Olah Raga
Struktur Organisasi Kementerian Pemuda dan Olahraga
Download Struktur Kemenpora Mei 2011


 

Sumber : http://www.kemenpora.go.id

Sabtu, 19 Mei 2012

KEBANGKITAN PEMUDA MASA KINI




Oleh: Epi Suhaepi, S.Pd

Pemuda merupakan tumpuan dan harapan bangsa, disetiap kebangkitan suatu bangsa terdapat pemuda sebagai rahasia kekuatannya. Peran pemuda yang membawa perubahan bagi bangsa menjadi gelora semangat bagi generasi pemuda selanjutnya. Pentingnya peran pemuda membuat Soekarno semangat untuk merubah dunia yang mana hal ini tersirat dalam jargonnya yang terkenal, “berikan aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia”. Namun demikian, ditengah kebanggaan akan peran pemuda, para pemuda saat ini kerapkali terbuai karena keberhasilan dari generasi pendahulunya. Tugas besar mereka dirasa sudah selesai sehingga mereka merasa tidak punya beban sejarah saat ini dan disini. Justru karena prestasi yang ditorehkan oleh para pemuda terdahulu maka sudah seharusnya hal itu dijadikan spirit-movement oleh pemuda sekarang untuk menjadikan Indonesia lebih baik lagi. Kebanggaan akan masa lalu tanpa dijadikan pelajaran untuk mengukir prestasi dimasa depan hanya menjadikan harapan jauh dari kenyataan.

Peran pemuda masa kini amat berbeda dengan peran pemuda dimasa lalu. Dalam sejarah pemuda Indonesia, kita mengenal beberapa generasi pemuda Indonesia yang terlahir untuk menjawab kondisi krisis pada zamannya. Dimasa penjajahan, tahun 1908 telah lahir gerakan Boedi Oetomo yang mengawali kebangkitan bangsa Indonesia. Dua puluh tahun kemudian terlahir gerakan pemuda yang mengikrarkan diri dalam rangka menyatukan rasa dan asa yang disebut dengan Sumpah Pemuda (1928). Mereka hadir sebagai pemuda-pemudi yang siap berada digarda terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kemudian, pada masa kemerdekaan, pemuda Indonesia dihadapkan pada tantangan internal bangsanya sendiri yaitu generasi 66 yang berhasil menumbangkan rezim Orde Lama (Soekarno) dan keberhasilan yang sama dicetak oleh generasi 98 yang menumbangkan rezim Orde Baru (Soeharto). Kelahiran generasi Beodi Oetomo, Sumpah Pemuda, generasi 66 dan generasi 98 merupakan reaksi dari kondisi saat itu sehingga kalau strategi perjuangan pemuda Indonesia masa lalu dijadikan strategi perjuangan masa kini maka kurang relevan lagi. Akan tetapi, fakta sejarah itu aman dikonsumsi dimasa kini asal dalam kadar yang minimal. Artinya, gerak perjuangan para pemuda terdahulu jangan diambil secara mentah tetapi dilakukan penyaringan terlebih dahulu sehingga bisa diambil mana yang bisa digunakan dengan kondisi masa kini dan mana yang tidak.

Gerakan pemuda Indonesia masa kini harus melangkah lebih maju dan memperluas peran serta fungsinya. Perluasan peran ini sebagai respon dari perubahan zaman dan sekaligus proses metamorfosis dari masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan. Metamorfosis itu menghendaki kelanjutan dari perjuangan masa lalu dan perbaikan untuk masa depan. Pertama, dari wacana menuju realita. Wacana-wacana yang seringkali digaungkan oleh berbagai organisasi pemuda tentang korupsi, kemiskinan, HAM dan globalisasi terlalu mewah bagi rakyat Indonesia yang mayoritas miskin. Mereka rela menyokong rezim apa saja hanya dengan imbalan satu liter beras. Oleh karena itu, program pemuda seperti desa binaan, pemberdayaan anak jalanan dan kuliah kerja nyata (KKN) lebih bermanfaat dari sekedar aksi wacana, baik melalui demontrasi maupun media. Hal ini bukan berarti menganggap bahwa wacana tidaklah penting,  tetapi hanya menegaskan bahwa jangan jadikan  wacana menjadi harapan tunggal yang bisa membawa perubahan. 

Kedua, lemahnya semangat kontribusi. Seringkali kita melihat berbagai organisasi kepemudaan tidak mau bergerak bersama padahal menyuarakan hal yang sama. Program atau kegiatan yang dipelopori para pemuda seringkali didasarkan pada logika persaingan. Mereka tidak mau bergerak bersama dengan organisasi kepemudaan lainnya karena menganggap orang yang diluar ideologi atau organisasi mereka adalah kompetitor sehingga harus dijaga jaraknya bahkan dijauhi. Saatnya pemuda Indonesia menggunakan logika kontribusi untuk Indonesia yang lebih baik. Dengan logika kontribusi maka yang ramai bukan persaingan tapi berlomba dalam kebaikan sehingga bisa berkarya sebanyak-banyaknya untuk kebaikan  masyarakat.
Singkatnya adalah peran pemuda masa kini tidak sekedar berwacana akan perubahan tapi harus benar-benar memberikan kontribusi yang kongkrit. Kontribusi yang diberikan bukan didasarkan atas persaingan tapi pengabdian kepada bangsa sebagai wujud amal kebaikan. Pemuda juga dituntut sebagai man of analysis dalam mencermati perubahan kehidupan sosial yang makin pesat. Maka dari itu, perubahan yang dilakukan pemuda adalah jawaban untuk masa depan.
Wallahua’lam

*Alumnus FIS UNY
Pengajar di BKB Nurul Fikri
Kota Bekasi, Jabar 2

Cttn: tulisan ini termuat di Koran Jawa Pos, 20 Mei 2011 dan menjadi Juara III Loma Esai Tingkat Nasional Kemenpora RI 2011
Powered By Blogger

Gempita_Follower